Samir Nasri; Berpuasa Ramadhan, Shalat Lima Waktu, Al-Fathihah Sebelum Pertandingan, & Ucapan Eid Mubarak

https://i2.wp.com/www.thefootballmind.com/assets/uploads/opinion_images/cc1f1f48cab0e2fa9e16a972b56b3147.jpg
foto : google

Samir Nasri menjadi buah bibir (trending topic)  di internet. Sebabnya apalagi kalau bukan ucapan selama Idul Fitri-nya ke seluruh Muslim di dunia lewat selebrasi golnya. Usai mencetak gol kemenangan ke gawang Southampton 3 tahun yang lalu, Nasri berlari sambil membuka kausnya yang bertuliskan “Edi Mubarak”. Orang-orang non-Islampun mengaku respek terhadap cara Nasri ini. Siapa sebenarnya Samir Nasri?

Samir Nasri memang dikenal sebagai muslim yang taat. Pemain 28 tahun ini dibesarkan di Kota La Gavotte Peyret, bagian dari daerah Septemes-les-Vallons, sebelah utara Marseille, Prancis. Dia adalah keturunan Aljazair dan anak tertua dari empat bersaudara.

Ibunda Nasri, Ouasilla Ben Said, adalah ibu rumah tangga. sang ayah, Abdelhafid Nasri, dulunya sopir bus sebelum memutuskan menjadi manajer anaknya. Kakek Nasri adalah warga Aljazair lalu pindah dan menetap di Prancis.

Sejak kecil, orang tua mendidik Nasri dan ketiga adiknya dengan nilai-nilai Islam. Mereka hidup sederhana. Maklum pendapatan bapaknya tidak besar.

Kelihaian Nasri ditemukan oleh pencari bakat Freddy Assolen. Dia mengatur dan memboyong lelaki ramping ikut kompetisi sepak bola anak-anak melawan akademi klub AC Milan dan Juventus.

Dasar mujur, sepulang dari ajang itu, klub sepakbola Prancis, Marseille, menawarkan beasiswa pelatihan kepada dia. Sewaktu mulai bermain sepak bola, dia menggunakan nama belakang ibunya, Ben Said. Tetapi setelah terpilih dalam tim nasional Prancis usia di bawah 16 tahun, dia memakai marga ayahnya, Nasri.

Sejak itu, bakat Nasri mulai dipoles.

Nasri mulai meningkatkan kemampuan dari teknik sepak bola jalanan ke keterampilan tingkat tinggi. Dia menyerap pelajaran dengan cepat dan mengesankan pelatihnya.

“Dia dapat melakukan apapun dengan bola. Cara dia membawa bola dan operannya sangat baik. Tendangan kaki kiri dan kanannya sama-sama bagus,” kata Freddy Assolen.

Beberapa pihak menilai dia layak menjadi penerus Zinedine Zidane.

Meski begitu, buat Nasri agama lebih penting dari sepak bola. Salat lima waktu tidak pernah dia tinggalkan. Gelandang serang ini selalu menadahkan kedua telapak tangan seraya membaca Surat Al-Fatihah sambil menundukkan kepala sebelum peluit ditiup sebagai tanda pertandingan dimulai.

Dia tidak malu memperlihatkan identitasnya sebagai muslim.

Nasri bahkan tetap melaksanakan puasa di bulan Ramadan meski harus berlaga di lapangan hijau selama 90 menit.

-islampos-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s