Setting Megah Dalam Film Ini Bukan Hasil Rekayasa Komputer

Setting Megah Dalam Film Ini Bukan Hasil Rekayasa Komputer

Terlepas dari penggunaan CGI yang makin marak di perfilman Hollywood, beberapa tim produksi film layak mendapat acungan jempol untuk keputusan mereka membangun set luas untuk keperluan syuting.

Teknologi mutakhir dihadirkan untuk mendukung proses pembuatan film layar lebar. Teknologi tersebut dimaksudkan supaya visi yang ada di benak sutradara bisa tertuang dengan baik dalam proses produksinya. Sineas dunia, utamanya dari Hollywood, makin getol menggunakan bantuan teknologi digital untuk menciptakan visual yang diinginkan. Bahkan untuk menciptakan setting yang mahaluas dan rumit sekalipun tidak lagi jadi kendala dengan bantuan CGI (Computer Generated Imagery). Menciptakan kerajaan antar galaksi seperti dalam Jupiter Ascending (2015) bukan lagi mustahil.

Ketersediaan teknologi ini berkorelasi dengan makin menurunnya jumlah produksi set untuk pembuatan sebuah film. Makin banyak sineas memilih menggunakan green screen dan CGI, makin sedikit pula sineas yang berani membangun sebuah set yang megah dan detail. Alasannya, salah satunya tentu efisiensi dan juga memangkas biaya pembuatan set.

Terlepas dari penggunaan CGI yang makin marak di perfilman Hollywood, beberapa tim produksi film layak mendapat acungan jempol untuk keputusan mereka yang lebih memilih membangun set luas untuk keperluan pengambilan gambar. Ambil contoh tim produksi The Lord of The Rings dan The Hobbits yang memilih terbang ke Selandia Baru untuk mengubah perbukitan menjadi Hobbiton, kampung para Hobbit.

Artikel ini akan mengulas tentang set pengambilan gambar film yang dibuat dengan skala besar dan megah demi menunjang cerita yang ada di dalam filmnya. Kami pilih dari beberapa film yang diproduksi beberapa tahun terakhir. Simak semegah apa setting film tersebut dibuat.

*Data yang diambil hingga tahun 2012. Ke depannya, susunan dalam chart bisa saja digantikan oleh film lain.

Setting Megah Dalam Film Ini Bukan Hasil Rekayasa Komputer

The Atoll dalam Waterworld

Sampai kapan pun karir aktor senior Kevin Costner akan selalu dikait-kaitkan dengan mahakaryanya, Waterworld (1995). Bukan karena kesuksesan filmnya meraup keuntungan atau menang di ajang penghargaan memang, tapi lebih kepada tragedi yang menyertai proses pembuatan filmnya.

Lebih dari 200 juta dolar AS digelontorkan pada tahun itu untuk mendukung visi CostnerĀ dan sutradara Kevin Reynolds untuk membangun set utama filmnya yang mereka beri nama, the Atoll. Nama itu merujuk kepada sebuah pulau buatan yang menjadi suaka manusia-manusia yang selamat dari air bah pasca melelehnya es di kedua kutub Bumi. Ketinggian permukaan air laut naik drastis karena peristiwa itu. The Atoll juga berfungsi sebagai benteng dari gerombolan perompak yang berkeliaran di laut lepas.

Untuk mewujudkan visi dari sang sutradara, Dennis Gassner sebagai Production Design membuat sebuah pulau buatan seluas 12,5 kilometer persegi dengan bahan besi, kayu, dan material pendukung lainnya. Khusus untuk besi, tim produksi memesannya dari Hawaii dan juga California. Semua bahan yang diperlukan untuk membuat pulau ini mencapai berat 1000 ton lebih. Mereka menempatkannya di Samudera Pasifik, tepatnya lepas pantai Hawaii.

Di luar perkiraan, biaya produksi yang semula ditarget 22 juta dolar AS membengkak. Tim produksi juga harus menghadapi permasalahan susulan seperti serangan topan keras, para kru film yang terserang mabuk laut, hingga kurang tersedianya toilet di Atoll tersebut sehingga proses pengambilan gambarnya molor dari jadwal yang ditentukan. Semua itu makin menambah besar bujet pembuatan filmnya.

Setting Megah Dalam Film Ini Bukan Hasil Rekayasa Komputer

Replika Kapal Titanic

Membicarakan film Titanic (1997), tidak bisa lepas dari romansa kedua tokohnya Jack (Leonardo diCaprio) dan Rose (Kate Winslet). Namun sejatinya di balik roman yang menghasilkan 11 piala Oscar di tahun 1998 ini ada sebuah proses menarik dalam pembuatan setting pengambilan gambarnya.

Sang sutradara James Cameron dibantu dengan Peter Lamont (Production Design) membangun replika kapal yang dibuat dengan skala 90 persen dari ukuran kapal aslinya. Dengan ukuran panjang 243,8 meter dan lebar 27,4 meter, ternyata replika itu tidak muat di studio mana pun sehingga akhirnya 20th Century Fox dan Paramount membangunnya di pesisir Mexico demi keperluan pengambilan gambar selama 100 hari.

Air yang dipakai selama proses pengambilan gambar diambil langsung dari laut. Semua air dipompa untuk memenuhi dua tangki dengan volume masing-masing cukup untuk 5 dan 17 juta galon air.

Desain kapal Titanic untuk keperluan film ini diambil dari desain kapal Olympic yang tak lain adalah “kembaran” Titanic. Sementara untuk interior dan detail lainnya diambil dari arsip dokumentasi yang ada.

Dengan keseriusan produksi yang seperti itu, bujet filmnya sendiri telah melebihi biaya riil untuk membuat sebuah kapal Titanic. Biaya yang dibutuhkan untuk membangun kapal pada tahun 1910-1912 adalah 1,5 juta dolar AS. Jumlah itu setara dengan 120-150 juta dolar AS di tahun pembuatan filmnya.

Setting Megah Dalam Film Ini Bukan Hasil Rekayasa Komputer

Paradise Square Kota New York

Melihat produksi film yang dikomandani Martin Scorsese, bisa diamati bahwa setting tempat yang ditampilkan dalam film dirancang dan digarap semirip mungkin dengan kondisi riil. Dalam film Gangs of New York (2002), Scorsese dibantu dengan Dante Ferretti membangun alun-alun buatan. Desainnya disesuaikan dengan kota New York di era 1800-an.

Dengan luas 250 x 250 meter, Ferretti mengklaim bahwa 30 persen lanskap kota yang ditampilkan dalam film adalah karya diirnya. Sementara untuk pemandangan panorama kota, Scorsese mempercayakannya kepada pakar Computer Generated Imagery.

Setting Megah Dalam Film Ini Bukan Hasil Rekayasa Komputer

Jalan Tol di The Matrix Reloaded

Di tahun 1999, The Matrix hadir sebagai film fiksi ilmiah revolusioner berkat adegan bullet-time. Empat tahun kemudian duo sutradara Wachowsky bersaudara memutuskan untuk membuat sekuelnya, The Matrix Reloaded (2003). Dampak dari kesuksesan film pertama, duo sutradara itu harus memutar otak untuk membuat adegan yang lebih spektakuler. (baca: menghibur dan memacu adrenalin)

Maka dimasukkanlah adegan kejar-kejaran antara para agen Matrix, para pria necis dengan pakaian jas, dalam memburu Morpheus (Laurence Fishburne) dan Trinity (Carrie Anne Moss) di jalan tol.

Melangsungkan pengambilan gambar di jalan umum yang padat kendaraan tentu bukan hal mudah. Perlu izin dari pihak terkait dan juga pengalihan lalu lintas selama proses syuting berlangsung. Coba bayangkan apabila hal tersebut terjadi di jalan tol.

Daripada pusing memikirkan hal di atas, Wachowsky dibantu Owen Patterson membuat sendiri jalan tol buatan sepanjang 2,4 kilometer di dekat Pangkalan Udara Alameda. Wachowsky bersaudara merasa bahwa polesan CGI pun tak akan mampu membuat adegan kejar-kejaran ini terlihat spektakuler.

Proses pengambilan gambarnya pun berlangsung hingga tiga bulan lamanya. Lebih lama dari proses syuting keseluruhan film mana pun.

Setting Megah Dalam Film Ini Bukan Hasil Rekayasa Komputer

Desa Hobbiton

Baik The Lord of The Rings: Fellowship of The Ring (2001) atau The Hobbit: An Unexpected Journey (2012) dibuka dengan setting lokasi yang sama, The Hobbiton. Tempat tinggal para Hobbit ini terletak di sebuah perbukitan berbaur dengan padang rumput menghijau.

Desa fantasi ini dibangun di Selandia Baru dengan luas 159,3 kilometer persegi dan dilengkapi dengan 37 gua Hobbit (sebutan untuk rumah para Hobbit), sebuah jembatan, dan sebuah bar serta penginapan. Demi mendapatkan kesan riil, sebanyak 26 ton pohon Oak didatangkan ke lokasi, ditanam, dan diberi daun buatan.

Tak sia-sia kepala desain produksi Dan Hennah merancang desa ini sebab selepas filmnya ditayangkan, The Hobbiton menjadi destinasi wisata turis domestik dan mancanegara.

-muvila-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s